Laporan: Imam Prabowo
KAB. SEMARANG | BESOKLAGI.COM – Ketika kemarau Panjang melanda, begitupun hujan tak kunjung turun, sumur-sumur warga satu per satu mulai mengering kehilangan air. Bagi masyarakat Dusun Ngoho, Desa Kemitir, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, kondisi tersebut bukan lagi sekadar cerita tentang kemarau, tetapi kenyataan yang harus dihadapi setiap hari.
Sudah sekitar dua bulan sumur warga mengering. Sementara hujan disebut tidak turun selama kurang lebih tiga setengah bulan. Di tengah kondisi itulah, air bersih berubah menjadi barang yang sangat berharga, Kabar baik kemudian datang pada Jumat (18/9/2026).
Keluarga besar Kantor Urusan Agama (KUA) Sumowono tidak hanya hadir membawa pesan keagamaan, tetapi turun langsung membawa bantuan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Melalui kegiatan Jum’at Berkah KUA Sumowono Peduli, sebanyak 10.000 liter air bersih disalurkan kepada warga Dusun Ngoho yang terdampak kekeringan.
Bantuan tersebut diperuntukkan bagi sekitar 200 kepala keluarga atau 752 warga yang tengah menghadapi keterbatasan air bersih.
Aksi sosial tersebut dipimpin langsung Kepala KUA Sumowono, Ahmadi Putera, bersama seluruh pegawai dan keluarga besar KUA Sumowono. Penyaluran air juga melibatkan Kepala Desa Kemitir Puji Utomo, warga setempat, serta dukungan BPBD Kecamatan Sumowono.
BPBD Kecamatan Sumowono dalam kegiatan tersebut diwakili Eko Sudarmo, yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Duren, Kecamatan Sumowono.
Bagi warga Ngoho, bantuan tersebut jelas bukan sekadar kegiatan seremonial. Ketika sumur yang biasanya menjadi sumber kehidupan sudah tidak lagi mengeluarkan air, kedatangan 10.000 liter air bersih menjadi bantuan yang begitu berarti.
KUA Sumowono: Ini Inisiatif Bersama
Kepala KUA Sumowono Ahmadi Putera mengatakan, bantuan air bersih tersebut lahir dari kepedulian bersama keluarga besar KUA Sumowono.
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian kepada masyarakat sekaligus upaya menerjemahkan semangat Asta Protas Kementerian Agama Berdampak dalam aksi nyata.
“Alhamdulillah pada hari Jumat 18 September 2026 KUA Sumowono ikut donasi air bersih. Semoga bermanfaat bagi warga Dusun Ngoho, Desa Kemitir. Kegiatan ini atas inisiatif kita semua, seluruh pegawai keluarga besar KUA Sumowono. Semoga air bersih ini bermanfaat bagi warga yang membutuhkan,” ujar Ahmadi.

Ia menilai persoalan kekurangan air bersih tidak bisa hanya ditangani oleh satu pihak. Dibutuhkan kepedulian dan gotong royong dari berbagai elemen masyarakat maupun instansi.
Karena itu, Ahmadi mengajak instansi pemerintahan, kepala desa, maupun pihak lain yang memiliki kepedulian untuk ikut membantu warga Ngoho selama musim kemarau masih berlangsung.
“Untuk membantu kekurangan air, kami menghimbau semua instansi yang ada di Kecamatan Sumowono, baik kepala desa maupun instansi lain yang ada di Kabupaten Semarang. Bagi panjenengan semua yang mau ikut donasi air bersih, warga Ngoho selama masih musim kemarau masih membutuhkan bantuan panjenengan semua,” katanya.
Menurut Ahmadi, bantuan sekecil apa pun akan sangat berarti bagi masyarakat yang sedang mengalami kesulitan mendapatkan air.
“Semoga menjadi amal ibadah panjenengan semua,” imbuhnya.
Tiga Bulan Setengah Tak Diguyur Hujan
Kepala Desa Kemitir Puji Utomo membenarkan bahwa kondisi air di Dusun Ngoho cukup memprihatinkan.
Ia mengatakan, sumur-sumur warga telah mengering selama sekitar dua bulan. Kondisi tersebut diperparah dengan hujan yang tidak turun selama kurang lebih tiga setengah bulan.
“Saya mewakili warga masyarakat di Ngoho mengucapkan terima kasih bagi keluarga besar KUA Sumowono dan kawan semuanya. Saya mengucapkan terima kasih atas bantuan air bersih 10.000 liter ini,” ungkap Puji.
Air bersih, kata dia, menjadi kebutuhan mendesak masyarakat. Warga membutuhkan air bukan hanya untuk minum, tetapi juga untuk berbagai keperluan sehari-hari.
“Air sangat dibutuhkan bagi warga kami karena sudah sekitar dua bulan sumur-sumur sudah mati, sudah tiga bulan setengah tidak hujan,” jelasnya.
Puji berharap kemarau tidak berlangsung lebih lama. Sebab, semakin panjang musim kering, semakin berat pula masyarakat memenuhi kebutuhan air secara mandiri.
“Sekali lagi terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan air bersih. Harapannya ke depan semoga kemaraunya jangan panjang. Tapi apabila ke depan masih kemarau, apabila ada bantuan lagi, kami ucapkan terima kasih,” ujarnya.
Warga: Air Ini Sangat Berarti
Bantuan tersebut langsung mendapat sambutan hangat dari masyarakat Dusun Ngoho.
Salah seorang warga, Titik Hariyati, menyampaikan rasa terima kasih kepada keluarga besar KUA Sumowono serta seluruh pihak yang ikut membantu masyarakat di tengah kesulitan air.
“Kami semua sangat terima kasih atas bantuannya panjenengan sedoyo. Mugi-mugi diparingi berkah. Bantuan panjenengan sangat berarti bagi kami. Pak KUA, terima kasih nggih,” tutur Titik.
Ucapan sederhana tersebut menjadi gambaran bagaimana berharganya air bagi masyarakat yang sedang menghadapi kekeringan.
Di tengah sumur yang mengering dan hujan yang tak kunjung turun, bantuan air bersih bukan hanya mengisi tempat penampungan warga. Bantuan itu juga menjadi tanda bahwa masyarakat yang sedang kesulitan tidak berjalan sendirian.
Kepedulian Diharapkan Menular
Sementara itu, Penyuluh Agama Islam KUA Sumowono Chusaeni RA berharap kegiatan sosial tersebut tidak berhenti sebagai aksi sesaat.
Ia berharap semangat kepedulian kepada masyarakat dapat terus dipupuk dan meluas, terutama di kalangan aparatur negara.
“Jiwa-jiwa kepedulian yang dipupuk oleh Bapak Kepala KUA kepada warga Ngoho semoga istiqomah, meluas kepada seluruh ASN terhadap rakyat Indonesia pada umumnya yang membutuhkan,” ungkap Chusaeni.
Bagi KUA Sumowono, kegiatan Jum’at Berkah tersebut menjadi salah satu bentuk nyata kehadiran lembaga di tengah masyarakat.
KUA memang selama ini identik dengan pelayanan administrasi pernikahan dan pembinaan kehidupan keagamaan. Namun melalui kegiatan sosial seperti penyaluran air bersih, kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat juga dapat diwujudkan secara langsung.
Sebanyak 10.000 liter air bersih memang menjadi bantuan sementara di tengah kepungan kemarau. Namun bagi 200 KK atau 752 warga Dusun Ngoho, air tersebut memiliki arti yang jauh lebih besar.
Ketika sumur mati dan hujan belum juga turun, satu tangki air bisa menjadi kabar baik.
Dari kegiatan sederhana bertajuk Jum’at Berkah KUA Sumowono Peduli, mengalir pesan bahwa persoalan kekeringan bukan hanya urusan warga yang terdampak. Ketika berbagai pihak bergandengan tangan, beban masyarakat dapat sedikit demi sedikit diringankan.
Dan di Dusun Ngoho, Jumat itu, yang mengalir bukan hanya air bersih. Semangat kepedulian pun ikut mengalir dari satu tangan ke tangan lainnya. (*)






