SEMARANG | BESOKLAGI.COM – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah menggelar Dialog 5 Rektor sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) Tingkat Jawa Tengah Tahun 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang H Panoet Harsono Lantai 4 Universitas BPD, Jalan Soekarno Hatta Nomor 88 Semarang, Kamis (5/2/2026).
Dialog mengusung tema “Menyehatkan Peran Kontrol Sosial untuk Memperkuat Kemerdekaan Pers”. Kegiatan diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/ MoU) antara PWI Jawa Tengah dan Universitas BPD sebagai bentuk penguatan sinergi antara pers dan perguruan tinggi.
Lima pimpinan perguruan tinggi hadir sebagai narasumber, yakni Rektor Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang Prof. Dr. Pulung Nurtantio Andono, S.T., M.Kom., Rektor Universitas BPD Prof. Dr. Sri Tutie Rahayu, M.Si., Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) Dr. Eny Winaryati, M.Pd., Rektor Universitas Panca Sakti Tegal Prof. Dr. Taufiqulloh, M.Hum., serta Wakil Rektor I Universitas Semarang (USM) Prof. Dr. Ir. Haslina, M.Si.
Kegiatan diskusi ilmiah tersebut juga dihadiri Ketua Yayasan Kesejahteraan Karyawan Karyawati dan Pensiunan (YKKP) Bank Jateng Joko Sambodo beserta jajaran pengurus. Hadir pula pengurus PWI Jawa Tengah, termasuk Dewan Kehormatan dan jajaran pengurus harian.
Dalam dialog tersebut, Rektor Udinus Prof. Pulung Nurtantio Andono menegaskan pers memiliki peran fundamental dalam pembangunan nasional. Ia menyebut tanpa pers, capaian pembangunan Indonesia tidak akan diketahui publik, serta menilai pers sebagai penyeimbang dan penggerak perjalanan bangsa.
Sementara itu, Rektor Universitas BPD Prof. Sri Tutie Rahayu menyatakan pers merupakan salah satu pilar utama demokrasi yang harus terus dijaga marwahnya. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab mengedukasi mahasiswa dan dosen mengenai etika pers sebagai bagian dari sistem demokrasi.
Rektor Universitas Panca Sakti Tegal Prof. Taufiqulloh menambahkan bahwa kecakapan di ruang digital saja tidak cukup tanpa kontrol sosial yang kuat. Ia menekankan pentingnya kontrol sosial formal melalui kode etik pers maupun kontrol sosial informal agar ruang publik tetap sehat.
Wakil Rektor III Unimus Dr. Eny Winaryati menyoroti pentingnya tiga unsur dalam bermedia, yaitu edukasi, partisipasi, dan hati nurani. Ia menyebut ketiga unsur tersebut juga tercermin dalam Surat Iqro’ yang menjelaskan tentang penglihatan, pendengaran, dan hati manusia.
Ia menjelaskan, tugas media adalah menghadirkan narasi yang dapat dipertanggungjawabkan dan memberikan layanan informasi serta edukasi kepada audiens. Di sisi lain, audiens juga memiliki peran partisipatif dengan tetap mengedepankan etika dan hati nurani dalam konteks kemerdekaan pers.
Wakil Rektor I USM Prof. Haslina menyampaikan bahwa perkembangan digital Artificial Intelligence (AI) telah menjadi keniscayaan, khususnya di kalangan mahasiswa, generasi muda, dan dunia pers. Menurutnya, pemanfaatan AI membutuhkan kecermatan, sikap kritis, imajinasi, dan kreativitas agar berdampak positif.
Ketua PWI Jawa Tengah Setiawan Hendra Kelana dalam sambutannya menyoroti masih tingginya tekanan terhadap kerja-kerja jurnalistik. Ia menyebut intimidasi dan intervensi terhadap wartawan masih kerap terjadi dan berpengaruh terhadap kualitas kemerdekaan pers di Indonesia.
Ia mengungkapkan, berdasarkan pemeringkatan global kebebasan pers, posisi Indonesia masih berada di peringkat 127 dari 180 negara. Melalui Dialog 5 Rektor ini, PWI Jawa Tengah berharap kemerdekaan pers semakin kuat dan mampu menjalankan fungsi kontrol sosial secara profesional demi kepentingan publik dan penguatan demokrasi. (*)






